"Kok Gak Hamil-Hamil SIh?" = Penindasan Verbal?


Baru saja melihat postingan dari teman (yang dia pun share postingan orang lain juga, hehehe) tentang bukunya Hanum Rais 'I am Sarahza'. Nah tulisan ini bukan untuk bahas tentang buku tersebut. Tetapi beberapa kalimat dari postingan teman saya itu, yang menjadi poin tulisan ini. Buat kita-kita pejuang keturunan biasanya sering mendengar pertanyaan atau statement seperti:

- Sudah Isi Belum?
- Kok Nggak Hamil-Hamil sih?
dan semacamnya lah yaa. 

Buat siapapun yang membaca tulisan ini dan masih suka melemparkan pertanyaan seperti itu maka kalian telah melakukan VERBAL ABUSE. Apakah saya baperan? Terlepas mungkin banyak pejuang keturunan menelan saja pertanyaan seperti itu atau tersenyum dalam kesedihan, maka tetap saja pertanyaan itu adalah tindakan tercela. Menyakitkan hati!

Saya baru tiga setengah tahun berjuang tanpa henti. Mungkin kebanyakan lainnya ada yang menanti keturunan tanpa melakukan apapun itu juga hak mereka. Tapu bagi saya yang sudah pernah terkapar gara-gara HSG, mendapatkan pertanyaan 'ngehek' seperti itu pantas saya balas. Saya tak akan pernah membiarkan orang-orang seenaknya bicara begitu menyakitkan sedangkan saya harus terus menjalani perjuangan yang entah kapan akan usai. Saya butuh menjauhkan orang-orang dengan tipikal seperti itu. Saya butuh menguatkan diri untuk mungkin saja harus melalui proses yang lebih menyakitkan ketimbang HSG. Mudah-mudahan saja enggak meskipun katanya balasan kesabaran itu luar biasa balasannya.

Pernah satu waktu, seorang teman pria bercanda dengan melontarkan pertanyaan, "Kok lo lama sih hamilnya?" Lalu apakah saya hanya tersenyum? TENTU TIDAK. Saya tidak bisa membiarkan orang yang melakukan penindasan verbal begitu santai dan meneruskan kebiasaan buruk itu. Saat itu saya melepaskan sepatu dan berkata, "Coba bilang lagi kalau mau sepatu ini kena ke muka lo." Saya baru bisa tersenyum. Bentuk penindasan sekecil apapun jangan dibiarkan. Karena seringkali dalam masyarakat penindasan verbal berbalut sikap bercanda. 

Saya termasuk yang berani untuk tegak berdiri ketika ada penindasan verbal tipe beginian. Begitu banyak yang menasehatkan untuk bersabar. Well, bersabar membiarkan penindasan dalam bayang-bayang becanda adalah tindakan bodoh. Harus dihentikan. Tinggal kitanya saja harus menata dalam menyikapinya. Nah dengan tulisan ini, semoga bisa menumbuhkan kekuatan bagi para pejuang keturunan untuk berdiri tangguh dan menghentikan penindakan verbal. Minimal sampaikan saja, "Maaf pertanyaan anda membuat saya tersinggung." Itu hak kita juga untuk menjawab pertanyaan mereka yang tidak mengenakkan itu. 

Pejuang Keturunan itu katanya "pilihan" Tuhan. Oleh karena itu, perjuangan yang selalu menguji energi fisik dan psikis seharusnya membuat kita makin tangguh. Bukan tangguh dalam diam. Karena psikis kita harus kuat ketika harus terus menerus mendapatkan takdir Tuhan yang belum sesuai dengan keinginan kita. Verbal Abuse tipe begini sebaiknya harus dihilangkan. Kita bisa menumbuhkan kesadaran kepada mereka yang mungkin belum paham bahwa mempertanyakan kehamilan (yang sekadar hanya ingin mengomentari) itu adalah sebuah penindasan. Bahasa jaman now itu BULLYING. Sepertinya malah bisa masuk pasal pidana kalau kita mau memperkarakan hingga ke pengadilan.

Kan kasian juga kalau mereka tidak kita warning terus tahu-tahu ada orang yang benar-benar membawa Pasal 335 ayat 1 ke meja hijau. Hadududu.. gegara bercanda terus bisa masuk penjara. Jadi buat siapapun yang membaca tulisan ini dan mungkin masih membercandai kehamilan orang lain, mohon bantuannya untuk berhenti. 

Bukankah lebih baik memberikan support terbaik dengan doa ketimbang bullying. Atau menepuk hingga memeluk kami lalu berbicara, "Sabarmu surga balasannya, kawan. Beruntung sekali kalian!"








Komentar